Lijit Search

Selasa, 04 Oktober 2011

analisis kalimat berdasarkan fungsi, kategori dan peran

Daftar Isi
                                            
Bab I       : Pengantar........................................................................................................ 3           
Bab II      : Pembahasan.................................................................................................... 4           
Analisis Kalimat................................................................................................................  4           
A.    Analisis Kalimat Berdasarkan Fungsi....................................................................   4
1.      Ciri-ciri Subjek...............................................................................................  4
2.      Ciri-ciri Predikat.............................................................................................  5
3.      Ciri-ciri Objek................................................................................................   6
4.      Ciri-ciri Pelengkap......................................................................................... 7
5.      Ciri-ciri Keterangan....................................................................................... 7
B.     Analisis Kalimat Berdasarkan Kategori.................................................................. 8
1.      Kata Benda (Nomina)..................................................................................... 8
2.      Kata Kerja (Verba)........................................................................................12
3.      Kata Sifat (Adjektifa)....................................................................................13
4.      Kata Keterangan (Adverbia).........................................................................15
5.      Kata Tugas.................................................................................................... 16
C.     Analisis Kalimat Berdasarkan Peran....................................................................... 18
1.      Makna Unsur Pengisi Subjek (S)..................................................................18
2.      Makna Unsur Pengisi Predikat (P)................................................................ 19
3.      Makna Unsur Pengisi Objek (O)..................................................................  20
4.      Makna Unsur Pengisi Pelengkap (Pel).........................................................  20
5.      Makna Unsur Pengisi Keterangan (Ket)....................................................... 20
Bab III    : Penutup............................................................................................................ 22
Daftar Pustaka................................................................................................................... 23

                       
















BAB I
KATA PENGANTAR

              Kalimat merupakan salah satu kajian bidang sintaksis. Di samping itu, sintaksis juga mengkaji masalah frase dan klausa. Kedua hal terakhir ini tidak bisa dipisahkan pembicaraannya dari kalimat. Oleh karena itu, pada uraian berikut ini akan di kulas terlebih dahulu mengenai masalah sintaksis secara singkat.
       Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti ‘dengan’ dan tattein yang berarti ‘menempatkan’. Secara etimologi, sintaksis berarti menempatkan bersama-sam kata-kata atau kelompok kata menjadi kalimat. Di samping uraian tersebut, banyak pakar memberikan definisi mengenai sintaksis ini. Ramlan mengatakan bahwa sintaksis adalah cabang ilmu yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase.
       Hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain akan membentuk frase, klausa dan kalimat. Uraian bentuk-bentuk tersebut akan dieksplanasikan satu persatu secara sepintas berikut ini.
A.    Frase
Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa.
B.     Klausa
Klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat
C.    Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola inotasi akhir terdiri atas klausa.











BAB II
PEMBAHASAN
ANALISIS KALIMAT
A.    Analisis Kalimat Berdasarkan Fungsi.
       Fungsi ini barhubungan saling bergantungan antara unsur-unsur dari suatu perangkat sehingga perangkat itu merupakan keutuhan dan membentuk sebuah struktur (Kridalaksana, 2002). Fungsi bersifat sintaksis, artinya berkaitan dengan urutan kata atau frase dalam kalimat. Fungsi sintaksis yang utama dalam bahasa adalah predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Untuk dapat mengetahui fungsi unsur kalimat, terdapat ciri-ciri subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
1.      Ciri-Ciri Subjek
Yang dimaksud dengan subjek adalah sesuatu yang dianggap berdiri sendiri, dan yang tentangnya diberitakan sesuatu(Putrayasa,2001). Dan terbentuk dari kata benda (mereka, rumah itu). Atau kata benda yang dipakai sebagai subjek atau yang dianggap sebagai kata benda. Misalnya :
-          Jalanya
Akhir –nya di sini mengatakan kata benda, meskipun kata benda itu menyatakan suatu kerja.
-          Berperang
Artinya hal perang, dianggap sebagai kata benda.
         Untuk menentukan subjek, kita dapat bertanya dengan memakai kata tanya apa atau siapa di hadapan predikat.
Ciri-ciri subjek adalah :
a.       Tentangnya diberikan sesuatu,
b.      Dibentuk dengan kata benda atau sesuatu yang sibendakan, dan
c.       Dapat bertanya dengan kata tanya apaatau siapa di hadapn predikat.
2.      Ciri-Ciri Predikat
Predikat adalah bagian yang memberikan keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri atau subjek itu, yang menyatakan apa yang dikerjakan atau dalam keadaan apakah subjek itu.
Beberapa pendapat mengenai pengertian Predikat, diantaranya :
Menurut Bloomfield (1933).
Menyebut predikat dengan verba vinit yang berarti melaksanakan perbuatan.
Menurut Lyons dan Alieva (1995/1991).
Predikat adalah keterangan mengenai orang atau barang, dengan istilah sebutan dengan makna yang sama.
Menurut Ramlan (1996).
Predikat adalah merupakan unsur klausa yang selalu ada dan merupakan pusat klausa karena memiliki hubungan dengan unsur-unsur lainnya yaitu, dengan S, O, dan K.
Menurut Suparman (1988).
Memberikan penjelasan predikat dengan menyebutkan ciri-ciri atau penanda formal dari predikat tersebut, yaitu :
a.       Penunjuk aspek : sudah, sedang, akan, yang selalu ada didepan predikat.
b.      Kata kerja bantu : boleh, harus, dapat.
c.       Kata petunjuk modal : mungkin, seharusnya, jangan-jangan.
d.      Beberapa ketengan lain : tidak, bukan, justru, memang, yang terletak diantara S, dan P, dan
e.       Kata kerja kopula : ialah, adalah, merupakan, menjadi. Biasanya kata ini digunakan merangkaikan predikat nomina dengan S-nya, khusus FB-FB (Frase Benda-Frase Benda).
3.      Ciri-Ciri Objek
Objek adalah konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif, yang ojeknya diletakkan setelah predikat. Objek dapat dikenali dengan memprhatikan :
a.       Jenis predikat yang melengkapinya, dan
b.      Ciri khas objek itu sendiri.
Dimana verba trabsitif ditandai dengan afiks tertentu. Sufiks –kan dan –i serta prefiks meng- merupakan verba transitif.
Contoh :
-          Rudy Hartono menundukkan Icuk.
         Objek berupa nomina atau frase nominal. Jika objek tergolong nomina, frase nomina tak bernyawa, atau persona ketiga tunggal, nomina objek itui dapat diganti dengan pronomina –nya; dan jika jika berupa pronomina aku atau kamu (tunggal), bentuk –ku dan –mu dapat digunakan.
Contoh :
-          Andi mengunjungi Pak Rustam.
-          Andi mengunjungi.
         Objek pada kalimat aktif transitif akan menjadi subjek jika kalimat itu dipasifkan.
Contoh :
-          Pembantu membersihkan ruangan saya.
       S                                      P                    O
-          Ruangan saya dibersihkan oleh pembantu.
         S                        P                   O
4.      Ciri-Ciri Pelengkap
Baik objek, maupun pelengkap sering berwujud nomina, dan keduanya juga sering menduduki tempat yang sama, yakni dibelakang verba (Alwi,et. Al, 1998).
       Persamaan dan perbedaan antara objek dan pelengkap dapat dilihat pada ciri-ciri, sebagai berikut :
Objek
Pelengkap
1.      Berwujud frase nomina atau klausa
2.      Berada langsung di belakang predikat
3.      Menjadi subjek akibat pemasifan kalimat
4.      Dapat di ganti dengan pronomina
1.      Berwujud frase nomina, frase verba, frase ajektifa, frase preposisional, atau klausa
2.      Berada langsung di belakang predikat jika tidak ada objek dan di belakang objek jika unsur ini hadir
3.      Tidak dapat menjadi subjek akibat pemasifan kalimat
4.      Tidak dapat diganti dengan –nya kecuali dalam kombinasi preposisi selain di, ke, dari, akan.
Kridalaksana menyatakan bahwa berdasarkan hubungan di antara pelengkap dan subjek serta objek, pelengkap dapat dibedakan atas :
1.      Pelengkap subjek,
2.      Pelengkap objek,
3.      Pelengkap pengguna : nomina atau frase nomina yang melengkapi verba transitif yang secara semantif menjadi penerima atau yang di untungkan oleh perbuatan,
4.      Pelengkap pelaku : bagian klausa berupa nomina atau frase nomina yang melengkapi verba pasif dan secara semantik merupakan pelaku,
5.      Pelengkap sebab : bagian klausa berupa nomina atau frase nomina yang melengkapi verba berkonfiks ke-an yang bermakna ‘mengalami’; atau nomina yang melengkapi verba bersruktur ber-V-kan,
6.      Pelengkap penkhususan : bagiab klausa berupa nomina atau frase nomina yang secra semantik merupakan spesifikasi daro nomina yang terdapat dalam predikatnya (predikat itu predikat verba denominal),
7.      Pelengkap resiplokal : bagian klausa yang berupa nomina atau frase nomina yang melengkapi verba resiplokal,
8.      Pelengkap pemeri : bagian klausa yang berupa adjektiva, atau frase adjektiva numeralia, atau frase numeralia yang menerangkan nomina dalam predikatnya.
5.      Ciri-Ciri Keterangan
Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya. Keterangan dapat berada di akhir, awal, dan di tengah kalimat (Suparman dan Alwi).
Terdapat bermacam-macam keterangan berdasarkan maknanya dan tandanya :
a.       Keterangan tempat : di, ke, dari, dalam, pada.
b.      Keterangan waktu : pada, dalam, se-, sebelum, sesudah, selama, sepanjang.
c.       Keterangan alat : dengan.
d.      Keterangan tujuan : agar/ supaya, untuk, bagi, demi.
e.       Keterangan cara : dengan, secara, dengan cara, dengan jalan.
f.       Keterangan penyerta : dengan, bersama, beserta.
g.      Keterangan perbandingan : seperti, bagaikan, laksana.
h.      Keterangan sebab : karena, sebab.
i.        Keterangan kesalinagn : saling.
j.        Keterangan akibat : sehingga, sampai, akibat.
k.      Keterangan alasan : berdasar hal itu, sehubungan dengan hal itu.
l.        Keternagn asal : dari.
m.    Keterangan kualitas : dengan.
n.      Keterangan kuantitas : banyak, sedikit, cukup.
o.      Keterangan modalitas : mustahil, barangkali, moga-moga.
p.      Keterangan perlawanan : meskipun, walaupun.
q.      Keterangan perwatasan : selain, kecuali.
r.        Keterangan objek :
s.       Keterangan subjek : dan
t.        Keterangan syarat : jika, kalau.
        Analisis kalimat berdasarkan fungsi sintaksis, dalam suatu kalimat tidak selalu berfungsi sintaksis itu terisi, tetapi setidaknya ada konstituen pengisi subjek dan predikat. Konstituen lainnya banyak ditentukan oleh konstituen pengisi predikat.
Contoh :
a.        Dia tidur dikamar depan
  S      P       Ket.Tempat
b.       Mereka sedang belajar bahasa indonesia sekarang
       S                    P                          Pel              Ket.waktu


B.     Analisis Kalimat Bedasarkan Kategori
Dalam ilmu bahasa, kata dikelompokkan berdasarkan bentuk serta perilakunya. Kata yang mempunya kemiripan di masukkan dalam satu kelompok. Kategori sintaksis bisa juga disebut dengan kategori atau kelas kata (Alwi).
       Analisis kalimat  berdasarkan kategori merupakan penentuan kelas kata yang menjadi unsur-unsur kalimat tersebut. Verhaar, mengatakan bahwa kategori sintaksis adalah apa yang sering disebut ‘kelas kata’ seperti nomina, verba, adjektifa, adverbia, adposisi (artinya, preposisi atay posposisi). Alwi membagi kelas kata ke dalam lima kelas. Kelas kata tersebut adalah :
1.      Kata benda ( nomina ),
2.      Kata kerja ( verba ),
3.      Kata sifat ( adjektiva ),
4.      Kata keterangan ( adverbia ), dan
5.      Kata tugas.

1.      Kata Benda ( nomina )
Kata benda adalah kategori yang secara sintaksis :
a.       Tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak,
b.      Mempunyai potensi untuk di dahului oleh partikel dari.
Kata benda mencakup pronomina dan numeralia. Kata benda dapat dilihat dari tiga segi, yakni :
1.      Segi Semantik
Dapat dikatakan bahwa kata benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian.seperti : guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah benda (nomina). Dari segi sintaksis mempunyai ciri-ciri:
a.       Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap dapat di ikuti oleh kata itu,dapat didahului olehkata bilangan (Alwi, et, al)
b.      Nomina tidak dapat di ingkar kan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya adalah bukan.
c.       Umumnya, nomina dapat di ikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun di antarai oleh kata yang dengan demikian, buku dan rumah adalah nomina karena dapt bergabung menjadi buku baru dan rumah mewah atau buku yang baru dan rumah yang mewah.
2.      Segi Sintaksis
       Dari segi perilaku sintaksisnya, nomina dapat dilihat berdasarkan posisi atau pemakaiannya pada tataran frase. Pada frase nomina, nomina berfungsi sebagai inti atau poros frase. Sebagai inti frase, nomina menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di depan atau dibelakangnya. Bila pewatas frase  nomina itu berada di depan, pewatas ini umum nya berupa numeralia atau kata tugas (Alwi,et.al).
Contoh :
Lima lembar
Seorang guru
Beberapa sopir
Bukan jawaban
Banyak masalah
       Frase nomina dapat berupa urutan dua nomina atau lebih atau nomina yang diikuti oleh adjektiva, verba, atau kelas kata yang lainnya. Nomina yang merupakan inti frase diikuti oleh pewatas yang berupa nomina, adjektiva, verba atau kelas kata yang lainnya.
Contoh :
Masalah penduduk
Buku catatan
Uang saku bulanan

Pola berpikir
Keluarga berencana
Tabungan berjangka
Rumah kita
Masa kini
Perbuatan itu

3.      Segi Bentuk
Nomina terdiri atas dua macam :
1.      Nomina yang berbentuk kata dasar,
Contoh : gambar, meja, rumah, pisau, tongkat, hukum, dll.
2.      Nomina turunan.
Contoh : daratan, pendaratan, kekosongan, persatuan, meja-meja, pisau-pisau dan sebgainya.
Nomina ini dilakukan dengan :
a.       Afiksasi,
b.      Perulangan,
c.       Pemajemukan.
Seperti yang sudah di bahas, bahwa nomina mencakup pronomina dan numeralia.
Beberapa para ahli yang berpendapat :
         Pronomina adalah kata-kata petunjuk, pernyataan, atau penanya tentang sebuah substansi dengan demikin dapat mengganti namanya (Ramlan,1991). Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain (Alwi, et. Al, 1998). Kridalaksana mengatakan, bahwa pronominal adalah kategori yang menggantikan nomina. Nomina perawat dapat diacu dengan pronomina dia atau ia. Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan –dalam macam kalimat tertentu- juga predikat.
         Ada tiga pronomina dalam bahasa indonesia, yakni
1.      Pronomina persona,
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang, diri sendiri, orang yang diajak bicara, orang yang dibicarakan. Ada bentuk yang bersifat eklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral.




Persona

Makna
Tunggal
Jamak
Netral
Eklusif
Inklusif
Pertama
Saya,aku,aku ku,-ku

Kami
Kita
Kedua
Engkau, kamu anda, dikau, kau,-mu ia,dia,beliau-nya
Kalian, kamu sekalian, anda sekalian


Ketiga

Mereka


2.      Pronomina penunjuk,
Dalam bahasa indonesia ada tiga macam, yaitu :
a.       Pronomina penunjuk umum,
Pronomina penunjuk umum adalah ini, itu dan anu.
Kata ini mengacu pada acuan yang dekat pada pembicara/penulis, pada masa yang akan datang atau pada informasi yang akan di sampaikan.
Sebagai pronomina, ini dan itu ditempatkan sesudah nomina yang diwatasinya. Contoh :
Jawaban itu                               rumusan ini
Lamaran itu                              saya ini
Masalah ini                               mereka itu
Kata anu dipakai bila seseorang tidak dapat mengingat benar kata apa yang harus ia pakai. Contoh :
-          Tadi pagi saya membeli anu-itu yang di pakai untuk potong rambut-gunting.
-          Mereka mau anu-mau pinjam kredit di bank.
b.      Pronomina penunjuk tempat,
Pronomina penunjuk tempat ialah sini, situ atau sana. Perbedaan diantara tiga ada pada pembicaraan : dekat(sini), agak jauh (situ), dan jauh (sana). Pronomina ini sering digunakan dengan preposisi pengacu arah, di/ke/dari sehingga terdapat di/ke/dari sini, di/ke/dari situ, di/ke/dari sana. Contoh :
-          Mereka berangkat dari sini.
-          Bukunya ada di situ.
-          engkau mau pergi ke sana?
c.       Pronomina penunjuk ihwal.
Pronomina penunjuk ihwal ialah begini dan begitu. Perbedaannya sama dengan penunjuk lokasi : dekat (begini), jauh (begitu). Contoh :
-          Bapak mengatakan begini.
-          Jangan berbuat begitu lagi.
3.      Pronomina penanya
Pronomina penanya adalah pronomina yang digunakan sebagai pemarkah pertanyaan. Dari segi maknanya, yang ditanyakan dapat mengenai :
a.       Orang,
b.      Barang, atau
c.       Pilihan.
selain pronomina, numeralia juga termasuk ke dalan nomina.
Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknyaorang, binatang atau barang dan konsep. Dalam bahasa indonesia ada dua macam numeralia, yaitu :
1.      Numeralia pokok disebut numeralia kardinal yang memberi jawaban atas pertanyaan ‘berapa?’ dan
2.      Numeralia tingkat disebut numeralia ordinal  yang memberi jawaban atas pertanyaan ‘ yang keberapa?’
2.      Kata Kerja (Verba)
Kata kerja (verba) adalah kata yang menyatakan tindakan. Ciri-ciri kata kerja (verba) dapat diketahui dengan mengamati,
1.      Perilaku semantis,
Verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya.
2.      Perilaku sintaksis,
Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lainnya yang ada pada kalimat.
3.      Bentuk morfologisnya.
Ketransitifan verba ditentukan oleh 2 faktor, yaitu
1)      Adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek pada kalimat aktif, dan
2)      Kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek pada kalimat pasif.
Secara umum verba dapat diindentifikasi dan dibedakan berdasarkan kelas kata terutama dari adjektiva karena ciri-ciri :
a)      Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau inti predikat dalam kalimat .
b)      Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c)      Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’.
d)     Verba tidak dapat bergabung dengan kata yang menyatakan kesangatan.
       Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
       Verba taktransitif (intransitif)adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakang yang terdapat fungsi subjek dalam kalimt pasif.
Verba taktransitif dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tidak berpelengkap.
       Pada dasarnya, bahasa indonesia mempunyai 2 bentuk verba, yaitu :
1.      Verba asal
Adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis,
2.      Verba turunan
Adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks bergantung pada tingkat keformalan bahasa atau ada pada posisi sintaksisnya.
Verba turunan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu
a)      Verba yang dasarnya adalah dasar bebas tapi memerlukan afiks agar dapat berfungsi sebagai verba .
b)      Verba yang dasarnya adalah bebas yang memiliki afiks .
c)      Verba yang dasarya adalah dasar terikat yang memerlukan afiks.
Verba turunan juga dapat membentuk kata berulang seperti : makan-makan, jalan-jalan, dan kata majemuk seperti : naik haji, bertanggung jawab.
3.      Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat (adjektiva) adalah kata yang memberi keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Yang di tandai dengan kemungkinan untuk,
a)      Bergabung dengan partikel tidak,
b)      Mendampingi nomina, atau
c)      Di dampingi partikel seperti lebih, sangat, agak,
d)     Mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er- (dalam honorer), -if (dalam sensitif), -i (dalam alami), atau
e)      Dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an (dalam keadilan, keyakinan).
       Kata sifat (adjektiva) juga mempunyai fungsi sebagai predikat atau adverbial kalimat yang mengacu pada suatu keadaan. Contoh kata pemeri keadaan :
-          Agaknya dia sudah mabuk
-          Kakeknya sakit
-          Masalah itu dikemukakannya secara sadar
       Adjektiva juga mempunyai ciri yang kemungkinannya menyatakan kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkan. Perbedaan tingkat kualitas ditegaskan dengan pemakaian kata, seperti sangat dan agak, seperti contoh :
-          Orang itu sangat kuat.
-          Agak jauh juga pondoknya.
       Jika dilihat dari segi sintaksisnya, adjektifa dapat berfungsi sebagai atributif, predikatif, dan adverbial. Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frase nomina yang nominya menjadi subjek, objek, atau pelengkap yang digunakan sebagai atributif, yang letaknya disebelah kanan nomina. Contoh :
a.       Laut biru
b.      Harga mahal
c.       Batu kecil
       Adjektiva yang mengunakan fungsi predikat atau pelengkap dalam klausa dikatakan dipakai secara predikatif. Contoh :
-          Gedung yang baru dibangun itu sangat megah
-          Setelah mereka menerima rapor, mereka pun gembira
       Jika subjek atau predikat kalimat berupa frase atau klausa yang panjang, dibataskan antara subjek atau predikat disisipkan dengan kata adalah. Contoh:
-          Yang di sarankan padamu itu (adalah) baik.
-          Yang setuju dengan ide itu (adalah) kurang waras.
       Dari segi bentuknya, adjektiva terdiri atas :
a.       Adjektiva dasar yang selalu monomorfemis.
Sebagian besar adjektiva dasar merupakan bentuk yang monomorfemis, meskipun ada yang berbentuk perulangan semu. Misalnya:
Lebar                   pura-pura
Kuning                sia-sia
Sehat                          hati-hati
b.      Adjektiva turunan yang selalu polimorfemis.
Adjektiva turunan polimorfemis dapat merupakan :
1)      Hasil pengafiksan dapat dilihat pada adjektiva tingkat kuatuf dengan prefiks se- dan tingkat superlatif dengan prefiks ter-.
2)      Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas.
3)      Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain, seperti bahasa Arab, Belada, dan Inggris.
4.      Kata Keteranagan (Adverbia)
       Kata keterangan (adverbia) adalah kategori yang dapat mendampingi asjektiva, numeralia, atau proposisi dalam kontruksi sintaksis yang menerangkan :
a.       Kata kerja dalam segala fungsi.
b.      Kata keadaan dalan segala fungsi.
c.       Kata keterangan.
d.      Kata bilangan.
e.       Predikat kalimat.
Kata keterangan dapat diketahui dari a). Perilaku semantisnya, b). Perilaku sintaksisnya, c). Bentuknya.
       Berdasarkan perilaku sintaksisnya. Adverbia dapat dibedakan atas delapan bagian :
1.      Adverbia kualitatif.
2.      Adverbia kuantitatif.
3.      Adverbia limitatif.
4.      Adverbia frekuentitatif.
5.      Adverbia kewaktuan.
6.      Adverbia kecaraan.
7.      Adverbia konstratif.
8.      Adverbia keniscayaan.
5.      Kata Tugas
Kata tugas adalah segala macam kata yang tidak termasuk salah satu kelas kata yang sudah di bicarakan. Kata tugas memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Kata tugas, seperti dan atau ke baru mempunyai ari apabila dirangkai dengan kata lain.
Ciri kata tugas, dilihat dari segi bentuk umumnya kata tugas sulit menaglami perubahan bentuk, seperti kata dengan, telah, dari, tidak bisa mengalami perubahan.
Ciri lain kata tugas tidak bisa membentuk suatu kalimat dengan sebuah kata, misalnya : telah!, dan!, supaya!, tetapi!,
Kata tugas dapat menjadi 5 kelompok, yaitu 1). Preposisi, 2). Konjugtor, 3). Interjegsi, 4). Artikula, dan 5). Partikel penegas.
1)      Preposisi
Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain sehingga terbentuk frase eksosentris direktif. Preposisi juga disebut dengan kata deoan, yang menandai berbagai hubungan makna antara konstituen yang berada di depan preposisi.
2)      Konjugtor
Konjugtor adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam kontruksi hipotaktis, konjugtor menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran atau yang tidak setataran.
3)      Interjeksi
Interjeksi adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicaraan, seperti : kagum, sedih, heran dan jijik.
Berbagai interjen  yang dikelompokkan menurut perasaan yang diungkapakan:
a)      Interjeksi kejijikan : bah, cih, cis, ih. Idih
b)      Interjeksi kekesalan : brengsek, sialan, buset, keparat

1 komentar: